Posting soal ini bukan karena ingin sok mudeng soal perda, agama atau apapunlah itu, tapi karena udah janjian nulis blog bertema ini -_-". Ngangkang atau dalam bahasa lebih jelasnya, duduk dengan kedua kaki mengapit jok motor. Baru baru ini posisi ngangkang menjadi tren karena Wali Kota Lhokseumawe, menulis surat edaran yg isinya melarang perempuan di sana, duduk ngangkang saat membonceng sepeda motor.
Saya pribadi sebagai perempuan merasa duduk ngangkang saat membonceng adalah sesuatu yg otomatis saya lakukan ketika saya menjadi pembonceng. (ini kok tulisannya pake 'saya-saya'). Sedangkan Nyemplo (kaki jadi satu di salah satu sisi sepeda motor) hanya saya lakukan ketika saya pake rok. Dan saya pake rok bisa diitung jari 1 tangan dalam setahun. Jadi, saya sangat lega saya tidak berdomisili di Aceh. hehehehehe
Seperti yg saya tulis di awal, saya bukan ahli politik maupun agama, juga bukan anggota salah satu LSM, tapi saya perempuan (walo gak feminim2 banget). Menurut saya, ngangkang ato sejenisnya, biarlah itu mengalir sesuai kebutuhan. Kalau dirasa lebih aman n nyaman ngangkang, ya ngangkang. Kalo lebih aman n nyaman nyemplo, ya nyemplo. Mending perdanya diganti "Dilarang Membonceng Tanpa Busana" nahh.. itu.. karena pasti jadi perhatian umum dan mengganggu konsentrasi pengemudi.
Trus, kalo disangkutkan dengan agama. kita naik motor pak, bukan naik unta. Agama itu pribadi kita dengan Tuhan, silahkan dianjurkan, tapi tidak perlu dibuat perda juga. Kita negara demokrasi, bukan negara agama. Okay ;)